Rabu, 25 Februari 2009

Lumpia Duren - Itasuki

Rating:★★★★★
Category:Other

JUARA BANGETTTT!!!!
Lumpia goreng dengan isi duren, dari ujung sampe ujung lagi! Sooo...creamy! Strongly recommended for all durian lovers!

Itasuki bisa dijumpai di Urban Kitchen Pacific Place, Senayan City & Melawai (depan Starbucks)
Sorry, gak ada fotonya, udah keburu abis seh...hehehehe.
Harganya gw agak lupa berapa, soalnya dibeliin sih :p.

Minggu, 22 Februari 2009

In Bruges

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Dua orang pembunuh bayaran, Ray & Ken, dikirim atasan mereka ke Bruges, sebuah kota di Belgia. Mereka disuruh tunggu di sana sampai si boss memberi instruksi target pembunuhan berikutnya. Ray yang baru aja ngelakuin kesalahan nembak anak kecil, nggak suka banget dengan kota Bruges. Dia nggak sabar pengen segera keluar dari kota itu. Kebalikan dari Ken, yang berlaku layaknya turis, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah abad pertengahan.
Kekesalan Ray sedikit berkurang setelah kenalan dengan Chloe, cewek setempat yang (dia kira) kerja di dunia film. Sementara Ray kencan sama Chloe, Ken ditelpon si boss yang ngasih tahu target mereka di sana. Nggak lain nggak bukan, targetnya itu adalah partnernya sendiri.

Kayaknya film ini dibuat dengan semangat bercanda. Sosok pembunuh bayaran digambarkan dengan sangat tidak sangar. Colin Farrell (Ray) boleh aja tampilannya temperamental, tapi tingkahnya mirip anak umur 5 taon yang dipaksa ortunya jalan2 ke museum merengek terus minta pulang. Sementara Brendan Glesson (Ken) yang emang tampilannya lebih senior, benar-benar jadi kayak bapaknya. Sementara Ralph Fiennes yang jadi boss mereka, tetap tampil serius but not that serious. Mereka termasuk pembunuh yang “anti kekerasan”, nggak mau nyakitin seorang ibu hamil walaupun si ibu itu ngehalangin jalan mereka.

Film komedi yang bikin lo ketawa getir layaknya menikmati kopi pahit ditemani strawberry ice cream.


“Maybe that's what hell is, the entire rest of eternity spent in fucking Bruges.”



Minggu, 15 Februari 2009

Nick & Norah’s Infinite Playlist

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Oh Nick & Norah are much much happier to watch than Frank & April. Setelah dihajar perasaan depresi nonton Revolutionary Road, serasa diguyur seember strawberry milkshake pas nonton film ini.

Cerita tentang Nick & Norah, dua orang pelajar SMA yang tergila-gila sama musik. Nick bikin band “The Jerk Offs” bersama 2 orang teman cowok yang kebetulan homoseksual. Nick bertemu Norah di sebuah klub tempat band-nya manggung. Karena terprovokasi temannnya, Tris, Norah pura-pura pacaran dengan Nick. Geblegnya, Nick itu mantannya Tris. Nick masih dalam tahap denial kalo’ udah putus, makanya dia sering ngasih CD kompilasi lagu buat Tris. Tambah gebleg lagi, CD yang selalu berakhir di tempat sampah itu sering dipungut sama Norah karena menurut dia playlistnya keren-keren.
Teman-teman Nick yang udah capek lihat Nick patah hati mulu, berusaha bikin Nick dan Norah pacaran beneran. Mereka bersedia nganterin Caroline, sahabat Norah yang mabok berat, supaya Nick & Norah bisa saling kenal lebih jauh. Mereka disuruh melacak lokasi band “Where’s Fluffy” yang bakal manggung malam itu.
Sementara itu, Tris yang tadinya taking Nick for granted, jadi nggak rela begitu liat Norah dekat dengan Nick.

Cerita ini ngambil rentang waktu satu malam. Satu malam yang ngejungkir balikin perasaan suka Nick ke Tris yang bitchy ke Norah yang cool. Satu malam yang membawa Nick & Norah ke gay bar, gereja, museum/studio musik bapaknya Norah sampai akhirnya ke roof top tempat “Where’s Fluffy” manggung.
Kalau kalian suka penampilan Michael Sera (Nick) di “Juno” you’re gonna love him even more on this movie. He’s so adorable.
A very very fun movie. Makes you wanna stay up all night long with your friends and be young again.

“Look, other bands, they want to make it about sex or pain, but you know, The Beatles, they had it all figured out, okay? "I Want to Hold Your Hand." The first single. It's effing brilliant, right?... That's what everybody wants, Nicky. They don't want a twenty-four-hour hump sesh, they don't want to be married to you for a hundred years. They just want to hold your hand.”


Revolutionary Road

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Hooooooaaaeeeeeeemmmm…
Leo.
Kate.
Together again.
Hooooaaaaeeemmm…
Setting tahun 1960-an.
Leo.
Kate.
Pasangan suami istri Frank & April Whealer.
Frank salesman mesin yang bernama Knox dan benci sama pekerjaannya.
April ibu rumah tangga yang bosan.

Hooooaaaeeemmm…
Suatu hari April dapat ide cemerlang yang bakal menyelamatkan mereka dari kehidupan datar di jalan Revolutionary.
Ayo pindah ke Paris! Frank emang pernah ke sana dan berharap suatu hari bisa kembali lagi. Buat Frank, Paris adalah tempat terbaik yang pernah dia kunjungi dan pengen banget bisa hidup di sana.
April yang hampir mati bosan dengan hidupnya sekarang, mengajak Frank buat benar-benar ngewujudin impian itu.

Hhoooooooaaaaeeeeemmm…
Frank setuju. April pun semangat lagi menjalani hidup. Pasangan ini kembali optimis melihat kehidupan.

Hoooooaaaaaaeeeeeeeemmmmm…
Sayangnya rencana itu jadi tinggal rencana. Frank tahu-tahu dapat promosi di kantornya. April hamil lagi.

Zzzzz…zzzz…zzzz…
Hah? Heh? Lho kok udah nyampe sini ceritanya? Lah itu kenapa April berdarah-darah?
Lho? Lho?
Hooooaaaaeeeeemmm…

Buat yang punya kecenderungan depresi atau bunuh diri, sebaiknya hindari nonton film ini. It’ll encourage you to take that knife.

Hoooooaaaaaeeeemm…zzzz..zzz…zzz

Sabtu, 14 Februari 2009

How to lose friends and alienate people

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Obsesi Sidney Young dari kecil bisa masuk ke lingkaran pergaulan selebritis Hollywood. Dunia para bintang film itu di mata Sidney penuh dengan hal-hal indah yang menyilaukan mata.
Sidney pun berjuang mati-matian buat masuk ke dalam lingkungan itu. Dia bikin majalah independent biar bisa ngeliput acara penghargaan dan after party yang dibanjiri seleb. Sayangnya karena reputasi Sidney dan majalahnya kurang berkelas, sulit banget menerobos masuk ke karpet merah.
Kesempatan emas itu datang saat Sidney dapat tawaran kerja di Sharp Magazine, majalah bergengsi yang punya akses masuk ke dunia elit selebritis.
Dengan penuh perjuangan yang bikin kita “gemes in nyebelin way”, Sidney bisa fit in di dunia gemerlapan para seleb. But not all the glitters are gold, Sidney pun merasa hidupnya palsu.

Film ini katanya inspired by true story. Sidney Young asli kerja di majalah Vanity Fair. Simon Pegg, pemeran Sidney Young, benar-benar pas nyebelinnya. Gillian Anderson tampil beda banget sebagai pubisis seleb-seleb kelas atas. Penampilannya kayak tante-tante sosialita yang kita liat di majalah Indonesian Tattler. Jeff Bridges yang biasanya tampil dalam sosok kebapakan dan bijak, di sini dia jadi editor in chief Sharp Magazine yang tampil flamboyant dengan rambut gondrong keperakan. Tadinya gue pikir film ini bakal kental atmosfer ke-bitchy-annya, tapi ternyata kadarnya masih standard aja sih. Alurnya juga nyantai. Film ringan menyenangkan yang pas buat buang waktu di akhir pekan.

Jumat, 13 Februari 2009

The Greatest Gift of All

Ini tulisannya ayah Amrie, salah satu dedengkot periklanan endonesiah, hehehe. Di-forward ke kita2 di kantor sama istrinya, bunda Shinta yang baik hati dan pemasok konsumsi. It's a good piece, makes you wanna hug your nearest dearest friends.

The Greatest Gift Of All.

Di dunia tak ada yang mutlak. Semua serba relatif sesuai dengan teori Eyang Einstein. Menunggu kelahiran anak , waktu merambat bagai siput. Saat pacaran jarum jam melaju bergegas.

Kata bisa berubah makna. Ketika seorang jejaka mencuri cium pacarnya, sang gadis sambil memukul lembut dada si cowok berkata :"ih...benci deh...sebel...sebel', dengan rona muka merah bahagia.

SMS dengan bunyi berita sama, mengakibatkan reaksi jauh berbeda. Berita "I am pregnant" dari istri, diterima Joko sambil berteriak gembira. Sementara berita yang sama dari sang 'mistress' membuat Joko berkeringat dingin. "Mati aku...!" desahnya.

Main golf, kalah gopek ceng Anda bayar dengan senang hati, sebagai bagian dari ongkos memperluas jejaring. Memberi 2 lembar ribuan lusuh pada pengemis kecil yang kuyup kehujanan di perempatan Pondok Pinang, Anda menggerutu menyalahkan pemerintah yang alpa memenuhi janji kampanye "pro poor policy".

Untuk membeli tas kulit Birkin Hermes seharga usd 6,000 sampai sekarang Anda rela inden, sementara brosur Dompet Dhuafa tergeletak di meja dan belum sempat dibuka.

Apa yang kita cari? Bila tahu bahwa semuanya adalah relatif, kenapa kita masih bergegas tiap pagi menuju kubikel bernama kantor , menggeram melawan macet, memelototi pengendara motor dan mengulang rutinitas ini ketika pulang bakda Isya?

Apa yang kita cari, sahabat?

Saya ketemu banyak orang yang gamang. Ketika usia melewati 2/3 perjalanan hidup, kita mulai mencoba mengubah kordinat. Bahwa keluarga adalah 'Job No.1', semua sepakat. Kesehatan mahal harganya, tak ada yang kontra. Berbuat baik dan respek pada sesama, juga dianjurkan Obama. Tapi ada satu kekuatan alami yang kita harus pelihara : daya guna persahabatan.

"True friendship is like sound health; the value of it is seldom known until it be lost."
- Charles Caleb Colton

ITB 77 adalah angkatan paling kompak, katanya. Modal utama ini jangan tersia-sia.
Persahabatan tak mutlak diukur dengan pencapaian materi. Perhatian, respek dan 'genuine care' sudah lebih dari cukup.

Apa yang harus Anda berikan ketika seorang sahabat yang telah punya segalanya berulang tahun? Dengan rumah bertingkat tiga neo klasik plus basement memuat 21 mobil Mercedes-Benz segala tipe di atas tanah seluas 5000m2 di area termahal Pondok Indah, benda apa yang dapat memuaskan hasratnya?
Ketika acara buka kado , bertumpuk hadiah peralatan golf termahal, jam tangan mewah, dasi-dasi segala merek. Hanya satu hadiah yang membuat dia dan istrinya menangis. Sebuah Al-Quran indah lengkap dengan terjemahannya.

Masihkah Anda meragukan bahwa segalanya di dunia ini sangat relatif?

Persahabatan memperkaya kehidupan."Friends are the most important ingredient in this recipe of life." Dalam era 'cukup dua anak' dan biaya pendidikan lebih mahal dari biaya nikah , maka mitos 'banyak anak-banyak rejeki' selayaknya diubah menjadi 'banyak sahabat-banyak peluang'.

"Don't walk in front of me, I may not follow. Don't walk behind me, I may not lead.
 Walk beside me and be my friend." - Albert Camus


Saya suka bermain golf karena di lapangan golf persahabatan tercipta tanpa pretensi. Bisnis timbul sebagai 'by product'. Dan mengapa saya selalu 'confirm' setiap permintaan dari siapapun juga untuk jadi 'Friends' di akun facebook saya? Karena pasti ada niat baik mereka untuk mau 'melamar' jadi teman saya.
"Everyone is a friend, until they prove otherwise."

Tadi malam, ketika sudah sampai di rumah saya mendapat sms dari teman memberitakan bahwa anak lelaki pertama sahabat kami alumni ITB 73 telah meninggal dunia. Langsung saya berangkat, karena saya tidak bisa dan naudzubillahi mindzalik tidak sudi membayangkan betapa hancurnya hati seorang ayah yang harus menguburkan putra kesayangan yang wafat di usia 24 tahun. "Fathers are not supposed to bury their sons!!!"

Ketika memeluknya dan berbisik padanya , saya kehilangan kata-kata. Kata-kata kehilangan makna. Yang dapat saya lakukan hanya mencoba menyerap seluruh air matanya yang tumpah pada pundak , dengan harapan sepersekian kesedihannya dapat kita rasakan.

Ratusan teman tiba malam tadi. Dan ratusan teman ini kemudian pulang memeluk anak-anaknya tanpa perlu bicara. Malam itu saya beruntung menyaksikan kekuatan dan daya rengkuh persahabatan.

Mulai hari ini, mari kita perbanyak teman. Seorang bijak pernah berkata:"strangers are just friends waiting to happen." Itulah sebabnya, ketika ikut turnamen golf, saya lebih suka berada dalam grup orang-orang yang belum saya kenal, karena ketika permainan selesai, persahabatan baru saja dimulai.

Dan persahabatan adalah hadiah terbesar sepanjang masa!
 

Salam,
Amrie Noor   


Sabtu, 07 Februari 2009

Benjamin Button yang bikin penasaran

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Emang bikin penasara nih fim. Cerita tentang Benjamin Button yang pertumbuhannya kebalik. Lahir sebagai orang jompo meninggal sebagai bayi. Jarang-jarang kan kita denger cerita kayak gini. Udah gitu degingnya kenceng bener pas musim award2an di sono. Makanya gue nungguin banget DVD-nya sampe gambar & subtitlesnya beres.
Kebetulan di jaringan 21 ini film udah diputar dan gue emang rencana mau nonton hari Jum’at kemaren. Tapi karena satu dan lain hal, rencananya batal. Secara udah kebelet bener pengen nonton gue putuskan buat nyari DVD-nya aja dan pas banget dapet versi yang udah beres. Di setengah jam pertama film, gue mensyukuri nonton ini di DVD. Alur film ini “padat merayap” alias lamaaa… Entah karena nontonnya sambil tidur2an dan jam sudah menunjukkan pukul 23.30, sempat ada moment gue ketiduran sebentar. Eeittss…tapi gue tetap merekomendasikan film wajib tonton kok. Kehidupan Benjamin yang unik menarik buat disimak. Lahir dalam wujud yang ajaib (bayangin aja kakek2 dalam ukuran bayi), dia dibuang bapak kandungnya ke sebuah panti jompo. Queenie, wanita kulit hitam pengurus panti itu, mengangkat Benjamin jadi anaknya. Dari kecil kematian udah bukan hal yang asing lagi buat Benjamin. Ya iyalah secara dia tinggal di panti jompo dan dokter juga nggak yakin dia nggak bakal lama umurnya. Jadilah Benjamin sangat menghargai hal-hal baru dalam hidupnya. Diajarin main piano hayo, diajak minum2 oke, diajak ke tempat pelacuran juga ngikut aja,. Dia pun nekat jadi crew kapal dari seorang kapten yang mabuk melulu dan berlayar ke berbagai negara. Benjamin juga nggak menyerah mengejar cinta Daisy, cucu dari salah satu penghuni panti jompo itu. Walau udah dikecewakan, toh akhirnya Daisy balik lagi ke Benjamin sampai menikah dan punya anak.
Adegan menjelang akhir film ini, buat gue adalah yang paling menyentuh. Benjamin “tua” dalam wujud seorang bayi yang lucu tertidur lelap dalam gendongan Daisy tua. “And in the spring, 2003, he looked at me. And I knew, that he knew, who I was. And then he closed his eyes, as if to go to sleep.”