Kamis, 20 September 2012

Permisi...


Berusaha memindahkan isi anisinam.multiply.com ke rumah barunya di sini. Karena alasan teknis yang belum diketahui sebabnya, belum semua bisa diangkut langsung ke sini.

Semoga dapat koneksi yang cepat dan baik hati sehingga semua bisa cepat menikmati rumah barunya dan tak hilang di belantara virtual yang kejam ini. 

Kamis, 21 Januari 2010

The Blind Side

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

”Family is not who you’re born into. But also who’s got your back.”
Sandra Bullock bilang begitu saat dia menang Golden Globe kemarin. Ahh…benar sekali itu. Sama seperti cerita film yang mengantarkannya sebagai “Best Actress” ini.

Tentang Leigh Anne Touhy dan keluarganya yang mengasuh seorang remaja kulit hitam, Michael Oher alias Big Mike. Dari kecil hidup Big Mike sudah bermasalah, ibunya pecandu, bapaknya entah siapa. Tak tega melihat Big Mike yang harus tidur di ruang gym sekolah, Leigh Anne mengajaknya pulang ke rumah mewah keluarga Touhy. Dari malam itu, Big Mike menjadi bagian keluarga Touhy yang sudah punya satu anak lelaki dan perempuan. Untuk pertama kali dalam hidupnya Big Mike merasakan tidur di kasurnya sendiri.
Semenjak itu kemampuan akademis Big Mike yang di bawah rata-rata perlahan mulai membaik, ia pun diizinkan masuk tim football sekolahnya. Tanpa disangka Big Mike tampil cemerlang sebagai pemain football sampai ia mendapat banyak tawaran beasiswa dari universitas ternama.

Sandra Bullock memang pantas dapat Golden Globe. Ini peran yang sama sekali beda dari peran-peran dia sebelumnya. Adegan favorit saya adalah ketika Leigh Anne menjelaskan tugas Big Mike di tim football. Cerdas banget! Penampilan Tim McGraw (Sean Touhy) di film ini terasa cukup mengejutkan. Secara kita biasa lihat dia dalam tampilan penyanyi country, di sini dia tampil kebapakan sekali.

Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Kebaikan-kebaikan nyata yang terjadi di film ini membuat saya tak ragu memberikan 5 bintang.


Beth: “You're changing that boys life. “
Leigh Anne Touhy: “No, he's changing mine.”


Senin, 11 Januari 2010

Sherlock Holmes

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Referensi saya tentang Sherlock Holmes adalah detektif Inggris setengah tua, pake cape kotak-kotak dan ngisep cangklong ke mana-mana. Nggak tahu terlalu banyak tentang ceritanya karena emang nggak baca bukunya juga sih. Sosok Sherlock saya kenal lewat serial-serial di TV yang ditonton sambil lewat. Saya memang agak kurang tertarik sama seri cerita detektif jaman dulu, lama-lama bikin ngantuk.

Beruntunglah ada Guy Ritchie yang pikirannya agak “menclong”. Ngobrak ngabrik karakter Sherlock dan alur cerita yang cepat bikin kita nggak berani berkedip. Beruntung juga ada Robert Downey Jr & Jude Law yang nyambung dengan kemenclongan Ritchie.

Plok, plok, plok…good job Mr. Ritchie!


Kamis, 17 Desember 2009

Sang Pemimpi

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Dari tetralogi Laskar Pelangi, buku ini yang kurang saya sukai. Terlalu sedih. Itu sebabnya waktu dengar kabar versi filmnya mau dibuat, saya nggak terlalu tertarik buat nonton. Nggak menggebu-gebu seperti Laskar Pelangi.
Semua itu berubah setelah saya dengar satu nama. Nazril Irham! Alias Ariel Peterpan. Si kasep bermata setajam silet bikin cewek-cewek kepelet ini, berperan sebagai Arai, sepupu dan sahabat seperjuangan Ikal. Tiba-tiba saya jadi sangat tak sabar menanti premier film ini. Apalagi karakter Arai itu ceria, sedikit jahil, penuh optimisme dan bersemangat. Bedalah sama Ariel yang sering kita lihat di tipi-tipi.
Untuk sampai ke sosok Arai dewasa yang diperankan Ariel eh Nazril…kita ketemu dulu sama sosok remajanya. Diperankan oleh orang Fikri yang beneran orang Belitung, aktingnya sungguh mencuri hati. Pas bener jahilnya!
Di tengah jalan, kita dicegat lagi sama penampilan antik tokoh bang Zaitun, pemilik orkes melayu beristri 4. Kepadanya Arai berguru cara merayu Zakiah Nurmala, gebetannya di sekolah.
Saat kamu merasa film ini akan segara berakhir...di situlah muncul Arai dewasa. Nggak rugi deh menunggu selama ini…hihihihihi.
Terlepas dari faktor si Nazril ini, seri ke-2 tampil lebih baik dari pendahulunya. Mungkin karena mengambil rentang masa remaja, masa muda, yang kata bang Rhoma, masa yang berapi-api. Mantappsss…
Bintang 5 ini saya persembahkan buat Mira Lesmana & Miles-nya yang dengan cerdik memasang Nazril Irham di film ini. Bi-sa aja!

Minggu, 29 November 2009

Kabul Beauty School

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Deborah Rodriguez


Debbie Rodriguez, seorang penata rias dari Holand Michingan, AS, suatu hari tergerak hatinya buat jadi relawan. Tak tanggung-tanggung, tempat yang dipilihnya adalah Afganistan. Waktu itu tahun 2002, saat kekuasaan Taliban baru berakhir di negara itu. Ngapain yah orang salon nyasar ke negara yang bertahun-tahun melarang kaum perempuannya merias diri bahkan bercermin pun dilarang? Memangnya di sana ada wanita karir yang perlu diblow dry rambutnya jam 6 pagi karena jam 8 sudah harus meeting?
Debbie memang sempat ragu apakah dirinya bisa berguna di sana? Sementara relawan lain profesinya lebih bergengsi, seperti dokter.

Ternyata, hasrat tampil cantik itu selalu ada di hati perempuan mana pun, di belahan dunia mana saja. Tak bisa ditutupi oleh burqa, pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, yang dipakai para perempuan Kabul bertahun-tahun lamanya. Maka sesuai keahliannya, Deb membuka sekolah kecantikan di Kabul. Tidak hanya untuk mempercantik wanita Afghan yang dasarnya sudah cantik, tetapi lebih memberikan mereka rasa percaya diri dan kesempatan untuk cari uang sendiri.

Luar biasa memang semangatnya Debbie buat mewujudkan sekolah kecantikannya ini. Dia minta bantuan dari para produsen produk kecantikan buat mensuplai barang-barang yang dia butuhkan. Niat baik nggak selamanya berjalan mulus. Masih banyak penduduk Afghan yang memberi label negatif pada sekolah kecantikan. Bahkan kementerian perempuan di sana pun mencabut dukungan mereka kepada Debbie. Namun niat baik juga selalu diberi jalan keluar. Selalu ada bantuan-bantuan tak terduga yang didapat Debbie saat sekolahnya terancam ditutup.

Memang buat bantu orang lain, nggak perlu harus jadi ilmuwan atau jutawan dulu. Debbi Rodriguez sudah membuktikan itu.


”Aku tak pernah puas dengan hanya menjadi seorang penata kecantikan, meski itu kehidupan yang baik. Aku selalu ingin menjadi bagian sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti-sesuatu yang memberiku perasaan bahwa aku sedang membantu menyelamatkan dunia”

Julie & Julia

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Food lovers, this is a MUST WATCH MOVIE!!! Seluruh isi film ini adalah tentang masak, makan, masak, makan, makan, masak, masak, makan, makan, makan! Jangan coba-coba nonton dalam keadaan lapar, dijamin orkes keroncong di dalam perut makin kencang bunyinya.

Film ini menggabungkan dua kisah nyata tentang Julia Child, penulis buku laris ”Mastering the art of French Cooking” dan Julie Powell, penulis yang menantang dirinya memasak semua resep dari buku Julia dalam waktu 365 hari.
Di bagian Julia Child kita diajak pergi ke Perancis di tahun 1949. Mengikuti suaminya yang bertugas di kedutaan Amerika, Julia mencari kesibukan dengan ikut kelas masak. Kenapa pilih masak? Karena Julia adalah pecinta makanan sejati (I shoud be signing to cooking class ASAP!). Dari hobi masak, Julia dan dua orang temannya mulai menulis buku resep sendiri.
Sementara di bagian Julie Powell, kita diajak kembali ke New York tahun 2002. Julie bekerja di hotline center buat keluarga korban 9/11. Menjelang ulangtahun yang ke 30 dia merasa frustasi (kenapa kepala 3 selalu bikin depresi). Teman-temannya sukses di karier sementara Julie yang bercita-cita jadi penulis, merasa semakin jauh dari impiannya itu. Suatu hari suami Julie mengusulkan agar dia mulai menulis blog. Karena dia suka masak dan punya kenangan indah tentang masakan Julia Child, maka diputuskan untuk membuat blog tentang memasak.

Meryl Streep, seperti biasa, tampil luar biasa. Aktingya sebagai Juia Child mengingatkan kita akan tampilan ibu Amerika klasik di poster-poster vintage. Dan suaranya itu lho...bisa-bisanya dibikin melengking kayak gitu. Tetapi yang jelas, hal itu nggak mengurangi kenikmatan film ini. Yum!


”You are the butter on my bread and the breath of my life”


PS: Selesai nonton, saya langsung ke dapur, bikin pancake!