Senin, 31 Desember 2007

whooaaa...2008!

tik
tok
tik
tok
...

tok, tok, tok!
2008 udah berkokok!
semoga nggak bikin kita mentok
semangat nggak keok
dan nggak kapok
tetap optimis 2008 bisa lebih asyik!
*plok, plok, plok!*

Rabu, 26 Desember 2007

SMS Buat Besok

Bos, maaf sy gak bs msk smp tgl 2 jan 08. krn sy br aja diculik sm raja culik ganteng dr komplotan liburan & leyeh2 lovers. kl mau sy msk jg, hrp byr tebusan kpd raja culik dan komplotannya sbyk 5 kali gaji dan 5 kali bonus. Utk smtr sy tdk bs dihub. krn stlh sms ini hp disita si raja culik. c u next year, hepi nyu year!



otaknya udh liburan, orangnya msh hrs ngantor, b'gumul dgn storyline dan nama2 menu yg tak ada habisnya. tetap semangat!

Senin, 17 Desember 2007

Edensor

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Buku ke-3 dari tetralogi Laskar Pelangi ini benar-benar bikin gue terenyuh. Perjalanan Ikal dan Arai, sepupu jauhnya yang sama-sama dapat beasiswa ke Sorbonne, Perancis, backpacking keliling Eropa pada musim panas. Biaya perjalanan mereka dapatkan dengan "ngamen" jadi ikan duyung. Belum lagi nyasar di Rusia, hampir kena rampok di Rumania dan ditawar om senang di Swiss. Penuh perjuangan namun tetap bikin ketawa ketiwi. Terutama waktu Arai dengan lantangnya ngucapin"Amiiin..." saat sholat jama'ah di sebuah mesjid di Rumania, sementara jama'ah lainnya ngucapin dalam hati.

Seperti "Laskar Pelangi" kata-kata di buku ini terjalin sungguh indahnya. Personifikasinya jelas melampui contoh-contoh standar di buku bahasa Indonesia.

"Menara Eiffel laksana nyonya besar. Tegak kekar, tak peduli. Puncaknya
mencakar ketinggian yang tak terkatakan, serupa mahkota yang melayang-layang dalam buaian halimun. Ia pongah dengan kepala mendongak dan
hanya mau bercakap-cakap dengan awan. ..."

Mantaps nggak tuh! Menara Eiffel bukanlah sosok asing buat kita (yah at least udah pernah liat gambarnya deh) namun di tangan Andrea kita diajak meresapi keagungan si Eiffel ini.
Selain dibuai oleh keindahan kata-katanya kita juga dibikin geli sendiri sama ”kejailan” Andrea. Salah satunya waktu dia memandang kagum poster kak Rhoma.

”Disertai senyum simpatik khasnya, beliau menjawab optimis sambil mengutip
salah satu judul lagu terkenalnya.
Ok dech, bagi yang mudha, yang punya ghaya...Rambathe Ratha Hayo!
Singsingkanh lenganh bajuhh kalau kita mau majuhh!”


Satu hal yang bikin gue kagum termehe-mehe sama cerita ini, time frame-nya bukan jaman dahulu kala, jaman ortu2 kita masih muda dan bercelana cutbray. Tokoh Ikal ini kira-kira masih satu generasi lah sama kita. Dan hari geneee masih ada pemuda dengan semangat juangnya tinggi demi menggapai mimpi-mimpi yang kayaknya jauuuuuhhh...banget dari tempat asalnya (Belitong), sungguh gue salut sesalut-salutnya! Itu sebabnya lo pasti akan maklum kalau tahu gue meluk buku ini selesai baca kalimat terakhirnya.

"Bermimpilah. Karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."

Kamis, 06 Desember 2007

The New 20's


Some said "30's is the new 20's"

jadi artinya...


It's my 20th birthday!!

ya kan?

ya kan!



ahh...sudahlah, Ni! Tuwir lo!

Rabu, 05 Desember 2007

Pacific Place Mall SCBD - depan BEJ

Rating:★★★★
Category:Other
Yak! Satu lagi tempat baru buat "buang2 duit". Masih soft launching jadi belom banyak toko yang buka. Kalo tempat makan (ini yg penting, ehem!) udah banyak yang buka, termasuk food court imut di basement.Tadi siang nyobain tahu telornya, lumayan juga.Selain makanan lokal ada masakan jepun juga. Di dekat food court juga ada Solaria.
Supermarketnya ada Kem Chicks yang menggandeng Kenny Roger's & Waroeng Kita. Hari Senin kemaren udah nyobain makan di Kenny Roger's, kebetulan ada paket promo Rp 49 ribu ++ yang t'diri dari ayam, 3 side dish, muffin yang tak sebesar saya bayangkan dan ice lemon tea. Kalau mau ngopi-ngopi ada Cafe Oh La la. Blitz Megaplex juga udah buka di lantai 6. Terus, yang penasaran pengen gue coba adalah arena b'main anak-anak yang keren berats, Kidzania! Belom sempet ngintip dalemnya nih, tapi udah gatel pengen ngajak Syifa ke sana.
Pacific Place Mall ini sepertinya lebih besar dibanding PS or Sency, kalau udah semua toko udah buka pasti bakal lumayan pegel ber-window shopping. Nahh...lucky for us (at least for me) para banci refleksi, di sana ada KENKO Reflexogy! Gue udah jajal siang tadi, uuuhh...enaknya. Tempatnya masih sepi lagi.
Lokasinya okeh banget buat melipir kalau suntuk di kantor. Aksesnya gampang lagi. Kalo nggak ada tebengan, cari taksi gampang bener di sana (ada pangkalan Blue Bird).

Kamis, 22 November 2007

Kebun Kata "RAHASIA"

Start:     Dec 2, '07 3:00p
End:     Dec 21, '07 8:00p
Location:     Cafe au Lait, Jl. Cikini Raya 17, Jakarta Pusat
Psstt...psstt...dateng yuk!

TUMPAHKAN RAHASIA DALAM PUISI
MARI KITA BERBAGI

MINGGU 02 DES 2007

"CAFE AU LAIT JL CIKINI RAYA 17 JKT PUSAT"

PARA PENAMPIL:

violet_eye_1979
danar-allstar
pepsi_golda
gulaligilaluli
itseira
thejorgy
t_11_k_a
duniahitam
downeydonni
penyihirhujan
aryyamilin
gedongproject
rebelliousasha
waterghost
larascoolcas
kolorsuperman
harlanboer
nivellism
sajap_tjapoeng
clovique
thedyingsirens
idiotsupreme
oengoemeloeloe

JUGA MENGUNDANG KALIAN SEMUA PENYIMPAN RAHASIA!

DISEMARAKKAN OLEH:

Otak and Chair
Efek Rumah Kaca

INI RAHASIA LOH, BILANG2X YAH!

related links:

www.bungamatahari.org
www.myspace.com/otakandchair
www.myspace.com/efekrumahkaca

[original text from Uga]
TUMPAHKAN RAHASIA DALAM PUISI
MARI KITA BERBAGI

MINGGU 02 DES 2007

"CAFE AU LAIT JL CIKINI RAYA 17 JKT PUSAT"

PARA PENAMPIL:

violet_eye_1979
danar-allstar
pepsi_golda
gulaligilaluli
itseira
thejorgy
t_11_k_a
duniahitam
downeydonni
penyihirhujan
aryyamilin
gedongproject
rebelliousasha
waterghost
larascoolcas
kolorsuperman
harlanboer
nivellism
sajap_tjapoeng
clovique
thedyingsirens
idiotsupreme
oengoemeloeloe

JUGA MENGUNDANG KALIAN SEMUA PENYIMPAN RAHASIA!

DISEMARAKKAN OLEH:

Otak and Chair
Efek Rumah Kaca

INI RAHASIA LOH, BILANG2X YAH!

related links:

www.bungamatahari.org
www.myspace.com/otakandchair
www.myspace.com/efekrumahkaca

[original text from Uga]

Rabu, 21 November 2007

Adam si penebar pesona




kalo dipanggil "Adam..." dia pasti langsung lempar senyum manisss...banget.
Keponakan gue yang satu ini emang beda sama kakaknya yg cenderung jutek. Dia ini bener2 penebar pesona deh. bangun tidur aja bisa langsung cengar cengir. kalo dimarahin sama bundanya, dia sih ketawa-ketawa aja. Si Adam ini sangat sadar kalo ada yang muji pasti langsung ketawa girang dan bikin tambah gemesin. dia juga pinter nangis tipu2. biasanya sih kalo kita ngalang2in keinginannya langsung deh nangis ngerengek trus begitu diturutin...cengar cengir lagi tuh! Duuh...jadi kangen pengen nyium2 Adam.

Senin, 12 November 2007

Laskar Pelangi

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Aahhh...aku jatuh cinta sekali dengan buku ini. Ceritanya indah seperti pelangi. Tentang Ikal dan sepuluh orang temannya yang tergabung dalam Laskar Pelangi. Lintang si bintang cemerlang, Mahar si seniman, Kucai si ketua kelas abadi, Borek alias Samson si otot macho, Sahara si keras kepala namun setia kawan, Trapani si anak ibu, Syahdan si calon aktor tanpa bakat akting, Harun si ”penggembira” dan Flo si anak orang kaya yang tomboi bukan main. Mereka adalah anak Melayu Belitong yang bersekolah di SD-SMP Muhammadiyah, sekolah kampung, sekolah gudang kopra, sekolah reot dindingnya bolong sampai harus ”ditambal” dengan poster Rhoma Irama, namun di dalamnya tersimpan sejuta pelajaran tentang hidup. Di sekolah itu ada guru-guru bijak berhati pualam, bu Mus dan pak Harfan. Ada pohon filicium tempat mereka nongkrong menikmati pelangi atau mendengar dongeng super imajinatifnya Mahar.

Kemiskinan memang dekat dengan tokoh-tokoh di buku ini namun tak secuil pun ada nada cengeng mehe2 ala film india ata sinetron murahan Multivision dan sekutunya. Gue jusru dibikin ketawa geli pada bab-bab awal buku ini (penjelasan tentang jenggotnya pak Harfan & poster Rhoma Irama sukses bikin gue sakit perut!). Dibikin senyum2 simpul saat Ikal mengalamai cinta pertama. Dibikin nangis juga tentunya. Dibikin malu (plus berasa digampar plak!) sama tekad Lintang yang tak surut pergi sekolah walau dihadang buaya (segala busway, galian PAM, telepon mobil tabrakan, macet di tol, kayak gak ada apa2nya deh!)
Aahhh...segala macam emosi komplit lah!

Sungguh ini satu cerita sederhana yang berhasil bikin gue ngiri berats! Gue pengen banget punya guru kayak bu Mus dan pak Harfan. Gue pengen banget punya teman sekelas yang penuh warna kayak Laskar Pelangi. Waktu mereka main seluncuran pelepah pisang di musim hujan, gue bisa ngerasain kegembiraan mereka dan berharap ikut duduk di pelapah pisang yang ditarik Samson itu. Gue bisa ngerasain excitement mereka saat manggung bawain ”Owner of a lonely heart” atau menari gila2an ala suku di Afrika waktu karnaval 17 Agustus. Gue berharap bisa ikut bersorak waktu Lintang yang super cerdas menggilas setiap pertanyaan saat lomba cerdas cermat melawan sekolah ”gedongan”. Gue pasti nangis paling bombay saat Lintang harus drop out dari SMP Muhammadiyah karena harus jadi pencari nafkah utama setelah ayahnya meninggal. Dan gue sangat ingin ikut duduk di atas pohon filicium itu sambil mengagumi pelangi.

Ini baru pertama dari tetralogi Laskar Pelangi. Kalo menurut gue buku ini pas banget kalo mau difilm-in. Dari bab pertama gue berasa lagi nonton filmnya Garin Nugroho yang selalu enak dipandang.

Seperti pelangi... buku ini sungguh membekas di hati.

“Saat itu aku menyadari bahw kami sesungguhnya adalah perkumpulan persaudaraan cahaya dan api. Kami berjanji setia di bawah halilintar yang menyambar-nyambar dan angina topan yang menerbangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah diciptakan Tuhan.”


Kamis, 08 November 2007

Rasanya pengen...






*doakan kesabaranku lebih besar dari amarahku, ya temans*


Selasa, 06 November 2007

Perona Pipi


Perona pipi terbaruku


adalah...




mata teduhmu
yang bagus itu...



Rabu, 31 Oktober 2007

Full Color Full of Life




Dari apartemen Myrna, FO Jeans Cisangkuy, Stamp di Riau, Gedebage, Stone Cafe, Braga, Parijs Van Java, depan distro Rockstar, EST, Bumbu Desa, Sop buah Ewok, tempat makan bubur, Batagor Riri sampai Blue Monster di Rumah Mode. Dari tanggal 18 sampai 20 Oktober 2007. Dari hari Kamis pagi sampai Sabtu siang. Dari Ani, Ana, Irjean, Myrna, Amir sampai Yoully.

Keluar Malam




Rumah Mode, Stone Cafe, Kampung Daun, Ciwalk & Sierra resto.

Jumat, 26 Oktober 2007

Honeymooners




Cuci mulut, cuci mata, "cuci" dompet ;) di Honeymoon Desserts, Ciwalk, BDG. Lucu2 dan menggiurkan sih, tapi secara namanya desserts ya, porsinya imut2. Nyobain pancake duren yg lembut dan rasa duren beneran! Sama sejenis ketan yg dibentuk bulet dgn toping taburan kacang (ada fotonya tp lupa namanya), rasanya kayak moci. Minumnya aneka fresh juice yg sebenar2nya segar.

Rabu, 24 Oktober 2007

Uhh Gaul! (Everybody Knows Uga)

Hei! Hei! Siapa tak kenal dia
Uga si pemuda masa kini dan nanti

Punya teman se-Jabodetabek

Dari anak band
Anak sekolahan
Anak rumahan
Penyair virtual
Penyiar radio
Guru bahasa Inggris
Guru bahasa isyarat
Produser beken
Petani sukses
Pemilik rumah kost
Pasti punya nomer hape-nya

Pekerja iklan
Pekerja media
Pekerja malam
Pekerja siang
Pekerja kasar
Pekerja halus
Pekerja paruh waktu
Pekerja penuh waktu
Tak pelak lagi add dia di list YM mereka 

Dokter gigi
Dokter mata
Dokter THT

Dokter kulit
Dokter cinta
Dokter feelgood
Dokter jones
Dokter masuk desa
Dokter jaga
Tentu sudah masuk friend’s list Facebook-nya  

Kalau di luar sono ada Raymond yang dicintai semua orang
Di dalam sini ada Uga yang dikenal semua orang
Uh!Gaulnya...!


24/10/07
Kagum berats karna Uga ternyata kenal sama dokter gigikuw!

 

 

Kamis, 11 Oktober 2007

Maaf


maafkan saya
kadang salah berkata
maafkan saya
bila sering mencela
maafkan saya
yang hanya manusia biasa

maafkan saya yah, temans!
sebelum kamu minta
saya sudah maafkan

Selamat Idul Fitri

 

Jumat, 05 Oktober 2007

Nyandu berbuku muka

Aaaarrrgghh...siapa yang menjerumuskan saya ikut Facebook?!!!
Rese!
Rese!
Rese!
Dulu hidup saya tenang damai sentausa
Tak tersentuh feature2 ajaib-gak penting-tapi lucu yang bejibun
iDescribe, superlatives, grow a gift, live it up, water fight...tak ada dalam vocabulary saya


Sekarang rasanya tiap menit tiap jam
saya ingin menengok si buku "terkutuk" itu
persis sperti hari2 Friendster lagi lucu2nya
"peisbuk" kamu b'hasil bikin aku terlihat sibuk!
*sok rhyming!*


btw, buat yg punya facebook jgn lupa add aku yaw...

From the movie "My Girl"


Thomas J. Sennett: What do you think it's like?

Vada Sultenfuss: What?
Thomas J. Sennett: Heaven.

Vada Sultenfuss: I think... everybody gets their own white horse and all they do is ride them and eat marshmallows all day. And everybody's best friends with everybody else. When you play sports, there's no teams, so nobody gets picked last.

Thomas J. Sennett: But what if you're afraid to ride horses?
Vada Sultenfuss: Doesn't matter 'cause they're not regular horses. They've got wings. And it's no big deal if you fall 'cause you'll just land in a cloud.


(salah satu dari sedikit film yang bisa bikin gue nangis walau udah ditonton berkali-kali walau udah bertahun-tahun lalu bikinnya. kemaren sempet nonton lagi dan gue tetep mewek waktu Vada nyamperin peti matinyaThomas J. Hiks! Duet akting yang menggemaskan dari Macaulay Culkin dan Anna Chlusmsky. Apa kabarnya anak2 itu ya?)


Kamis, 04 Oktober 2007

OST-nya Ani

Copy-paste dari cangkir kopinya nona Isse. Mumpung lagi santai gila sampe mati gaya lebih baik isi kuisnya

Ini adalah peraturan permainannya :

1. Open your library (iTunes, Winamp, Media Player, iPod, etc)
2. Put it on shuffle
3. Press play
4. For every question, type the song that's playing
5. When you go to a new question, press the next button
6. Don't lie and try to pretend you're cool...just type it in man!

1.Opening Credits: Diagonals - Stereolab

2. Waking Up: The prophecy - Float

3. First Day At School: High road - Fort Minor

4. Falling In Love: Matahari - ost Badai Pasti Berlalu (kok sedih ya?)

5. "The Relationship": Rain of July - The Monophones

7. Breaking Up: Sunday Lovely Sunday - Edson (lah kok seneng?)

8. Prom: Track 07 - Maliq & d'Essentials (huaaaa...nggak tau judulnya)

9. Life: Cermin - Sore (lumayan pas...)

10. Mental Breakdown: Imperial March - ost Star Wars (hahaahahahhaaa)

11. Driving: Big girls don't cry - Fergie

12. Flashback: So amazing - Beyonce & Stevie Wonder

13. Getting Back Together: A house is not a home - ndak tau siapa penyanyinya

14. Wedding: Black tambourine - Beck

15. Birth of Child: Miss Modular - Stereolab

16. Final Battle: Sweetest place- Dewa 19 (gw baru nyadar Dewa ada lagu ini)

17. Death Scene: Gadis gangster - The Upstairs (gile...)

18. Funeral Song: Aku tetaplah aku - Dewa 19 (gahar gini lagunya)

19. End credits: Dance with my father - Luther Vandross (aah...what a sweet ending)

Rabu, 03 Oktober 2007

Terlambat Bertemu - RSD

Gara2 postingan Fanny hujan poyan tentang RSD, gue jadi sering nyetel lagu ini. Ada yang tau lagu ini? Mari...b'sama-samaaa...


Terlambat Bertemu - RSD 

Diriku dirimu
Mungkin terlambat bertemu
Kau telah punya cinta
Begitu juga aku
Walau sesungguhnya ingin hati bersamamamu 

Reff:
Mengapa semua indah biila ada dekatmu
Getar lebih berasa dari cinta yang ada
Tak bisa aku ingkari
Meski kadang sadari
Mungkin diriku yg salah
(pasti diriku yang salah)

Diriku dirimu
Tak mungkin terus begini
Tak boleh ada lagi
Harapan lebih itu
Walau sesungguhnya ingin hati memiliki

Senin, 17 September 2007

Ke BaBel & Ketemu Crab Pit Dalam Foto2




Laut...aku padamu!

Laut dan isinya
Sungguh aku padamu!!!

Putihnya pasir
mencumbu airmu
di sela2 bebatuan

Ikan dan kawan2nya terhampar indah
di atas pinggan berbalut bumbu merindu
Bakar. Goreng.
Saus tiram. Saus Padang.

Kepiting mencapit hatiku
Udaaaangg...aku membungkuk padamu

Ooohh...laut...ooohh
Padamu sungguh aku tertambat

09/09/07
Bangka

*silakan buka belitungisland.com kalo mo' liat foto2 pantai di Belitung lainnya.

Ke BaBel & Ketemu Crab Pit (part 4)

From Bangka to Bandara (lagi): ”...abis itu keramas deh!”
Hoaaeeeemmm...! Sekali lagi Telly sukses bangunin gue dengan bangun duluan. Hari Minggu (9/09) pagi itu bangunnya emang lebih santai karena nggak diburu2 naek ferry. Sarapan pun dijalani dengan damai. Kita langsung check out pagi itu karena emang seharian jalan-jalan terus. 
Tujuan pertama adalah, ngopi2 di Pasar Atas Sungailiat. Lha kok...warungnya tutup? Oke, cari satu lagi. Eeh...tutup juga! Akhirnya kita langsung ke mie Apo tempat juga mie Bangka. Daelah...tukang masaknya belum dateng. Hihhihihi. Ya udah pada jalan-jalan aja dulu di sekitar pasar. Para ibu ada yang hunting beli jeruk kunci, jeruk nipis andalan di BaBel. Gue sempet jajan lupis yang rasanya masih lebih enak yang ada di pasar Mayestik :p. Kita nemu juga deh warung kopi yang udah buka. Pesen kopi susu dan ngambil beberapa kue basah yang disediain di situ. Kue inceran gue adalah kue bugis (kalo nyokap gue bilang sih ”lapekbareh”). Gue kira warna ketannya ijo ato item ternyata yah putih aja gitu. Isinya juga nggak terlalu banyak. Yang cukup enak justru lempernya, isinya dari ujung ke ujung soalnya. Warung kopinya ya beneran kayak warung, dengan meja panjang dan kursi kayu panjang. Cangkir kopinya ”vintage” bener, warna putih dengan hiasan bunga2 di tengahnya. Tempatnya lebih rapi dan ramai daripada yang di Belitung karena lokasinya di pasar.
Banyak pemandangan menarik selama kita di pasar ini. Kayak plang nama jalan 3 bahasa (Indonesia, Arab & Mandarin), becak yang ditarik pake motor di belakangnya, sama bis klasik yang badannya masih dari kayu gitu. Di Bangka ini kita juga sering ngeliat rumah yang punya sarang burung walet. Keliatannya sih dari bangunan yang menjulang tinggi tapi nggak ada jendelanya tapi ada kayak lubang anginnya gitu.
Dari ngopi-ngopi kita pun bergerak lagi ke Mie Apo. Berhubung mie Bangka itu non halal, kita yang nggak bisa makan itu disediain pantiau ikan. Makannya di atas kedai si mie Apo itulah. Pantiau itu samalah kayak kwetiaw rebus tapi di atasnya ada taburan sambelingkung (sekali lagi saudara2). Kalau gue bilang dari sekian makanan yang dicoba sebelum2nya, pantiau ini terasa lebih spicy.    
Okay, masalah perut selesai (nggak selesai sih, b’sambung lebih tepatnya) kita menuju Belinyu buat ngunjungin Kampung Gedong, tempat pembuatan kerupuk. Sepanjang jalan kita sering liat tanah bekas galian timah yang ditinggal menganga begitu aja. Kata si mbak tour guide, itu hasil dari penambangan liar. Abis tanahnya dikeruk, timahnya diambil, tanahnya dibiarin aja, nggak ditanam lagi sama pohonnya. Akibatnya kalau hujan tanah kerukan itu jadi danau dan bisa jadi timbulnya wabah malaria. Tapi sekarang katanya sih penambangan liar kayak gitu udah dilarang.
Sekitar satu jam perjalanan, kita sampai. Sebelum turun mas Irvan udah wanti-wanti supaya kita nggak asal sembarang foto-foto di sana. Walau namanya ”desa wisata” tetapi penduduk sana kurang suka sama foto2. Mungkin ada hubungannya sama hoki2an or maybe they just camera shy. Memasuki kampung gedong kayak terlempar ke masa lalu. Rumahnya kebanyakan terbuat dari kayu dan karena mayoritas warganya itu keturunan Cina, di depan rumah mereka kita masih bisa nemuin altar tempat sembahyang. Suasananya tenang…banget. Sesekali kita dengar celotehan anak-anak kecil yang lagi main. Kita berhenti di satu rumah buat liat proses pembuatan kerupuk. Sepertinya rumah ini ”pabrik” kerupuk yang paling besar di kampung Gedong. Tipenya sama kayak rumah lain di situ, dinding kayu dan meja sembahnyang. Kalau kita jalan ke belakang keliatan tumpukan kerupuk mentah yang udah diplastikin, siap buat dijual. Jalan terus, maka udah keliatan deh para ibu yang sibuk bikin adonan kerupuk. Kalau di depan rumahnya kita masih boleh motret, di areal ini it’s absolutely a no no! Proses pembuatannya kira-kira gini deh, dari ikan, udang, dan cumi diolah bareng sagu sehingga menjadi sebuah adonan yang bentuknya kayak adonan roti yang besar gitu. Kemudian tuh adonan dibanting-banting, dibentuk lonjong, disusun di atas loyang berkapasitas kira2 6 adonan, dimasukin ke semacam oven berbahan bakar kayu selama kurang lebih satu jam. Keluar dari oven tuh adonan dijemur satu or dua hari (agak lupa, sorry), setelah itu dipotong2 trus masukin ke oven lagi deh. Begitulah kira-kira prosesnya kalau gue nggak salah inget yeeee. 
Kalau menurut kalian proses bikinnya ribet, maka proses menggorengnya pun tak kalah njelimet. Beberapa peserta, termasuk gue, tertarik mau beli kerupuk mentahnya. Kita pikir kan, ah kerupuk gitu lho, gampang bener bikinnya. Tinggal cemplungin ke minyak panas, jadi! (in my case, tinggal ngomong, ”ma, mau kerupuk udang dong”, jadiii!) But noooo…not for this kind of kerupuk. Diperlukan dua waja dengan temperatur minyak yang beda, satu dingin, satu panas. Kedua wajan ini haruslah selalu terjaga temperaturnya, yang dingin jangan sampai jadi panas, yang panas nggak boleh kepanasan. Mmmhh...repot ya? Apalagi setelah mendengar saran tante Anne, ”...nah abis goreng kerupuk, keramas deh. biar bau ikannya ilang”. Hadoohh...terlalu sophisticated buat seonggok kerupuk. Mending beli jadinya aja deh!
Dari kampung Gedong kita ke Pha Kak Liang. Ada apa di sana? Ada kolam ikan dan makanan khas Bangka menanti untuk kita nikmati (makanannya doang lho, ikannya sih nggak boleh dipancing). Ceritanya Pha Kak Liang ini bekas tambang timah yang terbengkalai kemudian oleh seorang warga dibikin jadi kolam ikan dan dijadikan tempat wisata. Tempatnya lucu juga. Jembatan berkelok2 kayak di film2 kungfu menuju gazebo di tepi kolam, tempat kita bisa ngasih makan ikan sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Bikin ngantuk juga ini tempatnya. Gue sempet nyobain jongkong, terbuat dari apa gue lupa, yang jelas ada gula jawanya deh. Sepertinya gue pernah nyobain di Jakarta, tapi tidak seenak ini.

Hari semakin panas enaknya minum es nih. Nah...klop lah sama tujuan selanjutnya, Warung Es/Kopi Kutub Utara buat minum es kacang merah. Asyiiikkk. Seperti namanya es kacang merah itu ya isi kacang merah (ya masa kacang ijo!) ada siropnya kalau nggak salah dan tentunya taburan es serut di atasnya. Mirip2 es kacang merah di Camoe2 sih, tapi susu kental manisnya kurang banyak deh. Lagi asyik menikmati es kacang merah, ada pengumuman dari mas Andrew kalau Om dan tante Buntaran hari itu ngerayain ultah pernikahan mereka ke-31. Waaahh...pasangan ini emang okeh banget deh, mesra all the way.
Okay, nyemilnya udah, minum es udah, saatnya makan siang! Makan siang terakhir dari rangkaian tour Babel ini. Karena dari pantai Pasir Padi, lokasi maksi, kita langsung menuju bandara. Waktu maksi hari pertama, mas Andrew udah wanti-wanti kalau resto Asui itu udah paling topnya di sana, jadi jangan b’harap terlalu tinggi untuk di tempat lainnya. Ternyata di resto Biru Laut tempat maksi kita, asyik2 juga tuh rasanya. Apalagi lokam alias kerangnya yang gede-gede. Udangnya juga manis dan gurih. Hampir semua yang dihidangkan tandas tak bersisa. Julia dan mas Irvan malah dengan suksesnya ”membantai” satu keluarga ikan kerisi. Kita pun pulang dengan perut kenyang dan senyum mengembang
Dalam perjalanan ke bandara, ehh...kok tau-tau jalannya melenceng. Tak tahunya mampir dulu ke rumah makan Asui buat ambil pesanan kepiting  beberapa peserta (”bungkus kepiting” kalau kata mbak Mahda). Bungkus2 selesai, udah deh langsung aja ke bandara. Kita udah cek in sekitar jam empat kurang dan langsung disambut bungkusan oleh-oleh LCK. Wuihh...banyak koper yang beranak rupanya. Bawaan gue sih cuma beranak satu bungkusan oleh2 LCK. Kita naik Sriwijaya Air lagi, kali ini sayangnya tanpa Ariel, hehehehe. Dari jadwal terbang jam 5 sore, molor sekitar 30 menit. Lumayan...dibanding penumpang Adam Air yang kena delay satu jam.
Kehebohan rombongan JS tidak berhenti sampai di dalam pesawat. Gue bareng mbak Mahda dan mbak Lusi emang udah ancang-ancang mau beli mainan di in flight sho Sriwijaya. Makanya kereta belanjaan yang didorong mbak2 pramugari itu berhenti cukup lama di barisan kita. Sayangnya mobil2an firefighter yang gue incer buat Syifa lagi nggak ada stock. Pun frame lucunya. Akhirnya gue beli kaos gambar pesawat aja buat Syifa. Mbak-mbak pramugari itu pun mendorong kembali kereta belanjaan mereka dan tersendat lagi, masih di barisan rombongan JS. Itu ada kali ye 20 menitan berhenti aja gitu. Tempat duduk rombongan kita di bagian tengah. Waktu mbak-mbak pramugari itu jalan dari belakang, lancar sulancar. Begitu sampe di barisan gue, berhenti bentar. Terus kecepatannya makin turun ke barisan depan gue. Kecepatannya naik lagi begitu lepas dari barisan rombongan JS. Lucunya lagi, begitu tuh kereta mau balik ke belakang, eh kok ya nyangkut lagi di barisan rombongan kita. Yuk marii… Perlu dicatat, penerbangan kita itu hanya memakan waktu 50 menit. Emang dah, bener-bener teliti sebelum membeli, mau di mana pun juga!
Alhamdulillah…sekitar jam 7 kita mendarat di Jakarta. Tak ada keluh yang terucap, tak ada penat yang terasa, hanya senyum yang terkembang dan hati yang tercapit si mister crab pit (halah!). Thanks JS for a delightful trip!

FYI aja: Selama di BaBel walau tempat makannya nggak sementereng di mall, tapi gue salut sama kebersihan toiletnya. Bersih, bersih semua! Kecuali di Pha Kak Liang itu yah, mungkin karena tempat wisata.

--abis deh!--

Ke BaBel & Ketemu Crab Pit (part 3)

From Belitung to Bangka: ”kelaparan atau kekeyangan”
Gue beruntung sekamar bareng Telly karena dia bisa bangun lebih pagi dari gue. Kalau gak denger dia bolak-balik buka-tutup pintu kamar mandi, mungkin gue bisa bablas tidur sampe siang. Hari Sabtu (8/9) itu kita emang harus bangun pagi-pagi buat ngejar ferry jam 7 pagi ke Bangka. Selama 4 jam perjalanan (iya EMPAT JAM!!) banyak hal menarik yang kita dapatkan. Contohnya nih, dari mas Andrew kita tahu bahwa mitos ”itunya” gajah lebih kecil dibanding kuda adalah salah besar. Justru ”itunya” gajah yang paling geda (based on wikipedia katanya, hheehehe). Dari video clip karaoke lagu2 Indonesia yang ditayangkan sepanjang perjalanan kita jadi tahu kalau Nicky Astria pada suatu masa pernah bikin video klip megang payung besaaaarrr sambil nyanyi2 di taman (gue rasa ”Umbrella”-nya Rihanna nyontek dari sini). Dan band Matta ”ketahuan” punya video klip yang sama norak dengan lagunya, ”oooh...kamu ketauan...pacaran lagi...” (and i can’t get this song out of my head! hahahahaha) 
Kira jam 12 siang kita akhirnya lepas dari serangan dingin (dan lapar) dan berganti oleh serangan sengatan matahari Bangka. Itu sebabnya waktu masuk mobil (ato mini bus tuh ya?) yang kebayang cuma menu makan siang. Si mbak tour guide pun yang berusaha nerangin Bangka pun kita cuekin dengan kejamnya (hehehe, lapar sih, gimana lagi dong!) Lunch kali ini di Rumah Makan Mr. Asui dengan speciality ekor tenggiri & kepiting. Begitu nyampe sana, sederet meja panjang udah disediain buat kita. Cuci tangan, langsung duduk manis menunggu makanan datang. Tak lama menunggu, tadaaa!! Keluarlah itu ekor ikan tenggiri sepanjang & segemuk2nya. Masih kagum sama tenggiri, kita udah narik napas lagi waktu liat kepiting saus tiramnya. Sebenarnya ada lauk lain, tapi gue terlalu konsen sama si ekor dan si ”crab” pit :D 
Urusan perut selesai, jalan lagiii... Mampir dulu ke tempat jualan babi panggang di depan bandara Depati Amir. Jualannya di atas motor gitu dan mereka emang banyak mangkal di depan bandara. Gue nggak beli lah...liat doang dari dalam mobil. Setelah selesai transaksi ”oink-oink”, saatnya beli oleh2 di toko LCK. Yang diserbu, apalagi kalau bukan kerupuk! Sempat kepikiran gimana packingnya nanti yah? Walau enteng tetep aja kerupuk2 itu makan tempat. Leganya gue begitu tahu kalau kerupuk kita dibungkus rapi sama orang toko biar bisa langsung tenteng dan masuk bagasi nanti.
Dari LCK kita pun bergerak lagi ke daerah Sungailiat buat beli jajanan pasar dan susu kacang kedelai. Tadinya mau cobain pempek Bangka, tapi sayang sungguh sayang begitu kita nyampe, udah abis bis! Yang ada kita nyerbu pisang goreng dan roti isi sambelingkung (again). Dari situ baru deh kita bener-bener menuju hotel, Parai Beach Resort. 
Asyiknya...liat pantai lagi! Masih dengan batu-batu besar dan air jernihnya. Tapi kalau gue bilang pantai di sini nggak se-breath taking pantai di Belitung. Pasirnya masih kalah halus. Selesai naro barang-barang di kamar (gue sekamar lagi sama Telly & tetanggaan lagi sama mbak Mahda & mbak Lusi), kita menuju pantai di belakang hotel ini.

Lebih ramai emang dan ada debur ombaknya. Bisa nyewa jetski, banana boat dan teman2nya. Iseng-iseng pengen juga naek banana boat. Jadilah kita berlima (gue, Fitra, Telly, mbak Lusi, satu lagi gue lupa siapa maaap...) naikin si perahu pisang itu. Ahh...gue salah banget milih duduk di belakang. Karena yang ada gue teriak2 antara senang sama panik. Memalukan lah! Untungnya momen itu hanya terekam di kamera gue (makasih mbak Lily,hehehehe).
Kelar main-main di pantai, kita siap2 deh buat makan malam! Di Rumah Makan Raja Laut kita kenalan sama yang namanya sup (ato sayur ya) shabu. Isinya (again) seafood dkk serta kangkung. Mirip2 rebusan di Caza Suki gitu kali ye. Rasanya cukup okelah... Gue justru lebih tertarik sama kepiting bakarnya yang tebal dan enak dicocol pake sambal khas sana (sambal sana nggak pedas2 banget). Gue sengaja nggak mau terlalu menggila makannya karena dari tempat itu kita bakal icip-icip martabak Bangka (cihuy!) Apalagi selama perjalanan dari hotel menuju tempat makan, mas Irvan udah ngasih ”kuliah” Martabak 101 (bikin tambah laper deh). Dinner selesai, saatnya cari dessert, martabak (busyet, berat jg yah dessertnya).
Jarak ke tempat Martabak Ayung cuma selemparan kancut dari resto RajaLaut. Sekedar info, martabak Ayung ini pemegang rekor MURI karena waktu ada kompetisi martabak, mereka bikin martabak berbentuk sisik naga. Begitu turun dari mobil, brrrrrrrr....satu loyang martabak isi wijen habis diserbu! Pemandangan 30 orang yang 5 menit lalu makan malam menyerbu satu kedai martabak dan tetap antusias menyambut setiap loyang yang disodorkan, oooohh...sungguh menakjubkan! Itu semua lauk makan malam tadi kayak nggak ada bekasnya dah! Sampai sekarang pun gue masih terkagum2 kalo inget kejadian ini. Seakut-akutnya gue menggilai martabak baru kali ini makan martabak langsung di tempat penjualnya. Biasanya kan beli terus bawa pulang. Rasa martabaknya sih nggak beda jauh sama yang ada di Jakarta. Isinya juga sama-sama aja, cokelat, keju, wijen (di sini ada yang cuma isi mentega sama wijen doang). Keriuhan rebutannya itulah yang jarang-jarang kita temuin. Belum lagi sesi foto-fotonya kan yah, jadi tambah rame deh. Si engkohnya shock juga kali ye diserbu 30 orang udik dari Jakarta yang kayak belum pernah makan martabak seumur hidupnya. Udah gitu pake ada special request martabak tipker pula (ternyata di sana nggak ada menu ini lho). Percobaan pertama, masih kurang tipis, jadinya kayak martabak mini yang biasa kita beli waktu SD. Percobaan kedua baru deh bener-bener kriuk, krek, krek! Tahu berapa loyang yang kita habiskan buat ”icip-icip” malam itu? 12 loyang saja  saudara-saudara!  Gue jadi inget celetukan seorang peserta waktu di ferry, ”Di tour JS itu cuma ada kelaparan atau kekeyangan!”
Dengan senyum mengembang dan perut (amat sangat) kenyang, kita pun kembali ke hotel. Gue dan Telly sempat ”nenangga” ke kamar mbak Mahda & mbak Lusi setelah dengan noraknya kita nemuin connecting door. Nonton ”Seven” bentar, mata gue udah kriyep2 banget dan pamit balik ke kamar. Tidur dengan suksesnya!

...masih setia membaca? salut! masih nyambung satu bagian lagi neh. yakin masih sanggup? ;)

Ke BaBel & Ketemu Crab Pit (part 2)

From Bandara to Belitung: “ini kepiting telur yang paling jujur!”

Jum’at (7/09) di terminal 1B bandara Soekarno-Hatta jam 5.15. Clingak clinguk cari rombongan JS. Di email katanya ada yang megang spanduk JS tapi kok belum keliatan ya? Tilpun2 mas Andrew sambil clingak clinguk …and oh there they are! Setelah absen, gue dikasih tas selempang ijo jalansutra berisi sendok dan buku panduan tour. Lho kok ada sendok? Katanya itu berguna buat icip-icip makanan nanti. Lucu juga…

Selesai absen, saatnya kenalan sama peserta lain. Keparno-an gue nggak dapat teman di tour ini langsung luntur begitu kenalan sama mbak Lily dan anaknya, Fitra (yang tadinya gue sangka adik or keponakannya, hehehehe). Kemudian ada Julia dan Telly yang juga berangkat sendiri, mbak Mahda dan mbak Lusi teman sebangku di pesawat, tante Grace yang kocak banget, om dan tante Buntaran yang kemesraannya bikin ngiri semua peserta (hehehehehe) dan banyak lagi.  

Pesawat kita, Sriwijaya Air, berangkat tepat jam 06.45 menuju Tanjung Pandan, Belitung. Wehh...kita satu pesawat sama Peterpan! Aduh itu Ariel kasep pisaaan...hehehehe. Sayang nggak setinggi yang gue kira (kayak ada ngaruhnya aja gitu buat gue!) Mereka emang mau manggung di Belitung dalam rangka LA Lights Concert.

Sekitar jam setengah 8 kita nyampe di bandara HAS Hanandjoeddin dengan perut lapar :p (tapi jiwa narsis nggak pernah ketinggalan karena begitu nyentuh daratan lagi langsung foto2). Dari bandara kita menuju tempat sarapan (cihuy!), mie Belitung. Kotanya masih sepi banget. Nggak pake macet, nggak ada tukang parkir. Nggak nyampe 30 menit dari bandara kita udah nyampe di tempat mie Belitung. Tempatnya nggak ada namanya, cuma plang jalan Sriwijaya no. 27 dan spanduk XL Bebas serta Indosat. Mie Belitung itu bentuknya ya kayak mie pada umumnya (ya iyalah!), pake kuah kental gitu yang rasanya manis, ditaburi irisan kentang (ada udangnya juga atu biji) dan kerupuk emping. Di tempat ini jugalah kita kenalan sama yang namanya jeruk kunci, semacam jeruk nipis gitu deh dan kayaknya selalu ada di tiap tempat makan yang kita kunjungin.

Selesai menyerbu mie Belitung, kita jalan kaki ke warung kopi Ake. Warung kopi sebenar-benarnya warung kopi dengan kursi kayu dan jajanan pasarnya. Masak kopinya aja pake kompor arang (sempat ada yang mau beli arangnya neh, hehehe). Terus disaring pake kaos kaki. Enggak ding, ada saringannya gitu sih, tapi kita liatnya kayak kaos kaki.Tenang aja, rasanya nggak kayak jempol kaki kok ;) Berhubung hari panas, gue pesen es kopi susu. Pengaruh tempat, ngeliat langsung cara buatnya, rame-ramenya bikin rasanya yang kemanisan buat gue (susunya sekaleng kali ye) bisalah ”dimaafkan”.  

Selesai menyeruput kopi dan cemal-cemil, kita pun bergerak ke pabrik pembuatan sambelingkung alias abon ikan. ”Luasnya 12 hektar!”, gitu kata mas Andrew. Kalau liat dari gelagat peserta lain yang sudah pengalaman ikut tour, info kayak gini patut dicurigai. Pasti nggak seperti yang kita kira. Dan...bener aja. Yang namanya ”pabrik” itu bentuknya rumah dengan tanah kosong yang luassssss...terbentang (ditawari beli tanah di situ juga tuh).  Halah, halah. Yang namanya abon ikan ya pasti dibuat dari ikan, ikan tenggiri tepatnya. Prosesnya cukup bikin mata perih, karena dimasak pake kompor kayu bakar di atas wajan super XL buat ngaduk adonan abon. Hadohh...gue nggak tahan lama-lama di dapurnya, bikin kita menitikkan air mata saking berasapnya. Salut deh buat ibu-ibu pekerja di sana.  

Selesai kunjungan (dan pesan2 juga pastinya) ke ”pabrik” abon, saatnya maksi!! Eehh...kita mampir dulu deh ke toko roti ”Happy” yang jual roti isi sambelingkung tadi. Nggak lama-lama di situ, coba nyoba roti terus langsung menuju tempat maksi di rumah makan Pribumi. Dari toko roti ”Happy” itu udah turun hujan deras, kebayang dong gimana nanti gaharnya kita pas maksi,hihihihi.

Karena kotanya yang segitu-gitu aja (nggak ada tukang parkir lho di sini!) nggak nyampe 10 menit kita nyampe di rumah makan Pribumi. Setelah berlari-lari kecil pas turun dari mobil buat menghindari hujan, kita pun duduk manis nunggu makanan datang. Modelnya kayak di rumah makan Padang gitu, makanannya ngampar semua di meja. Tinggal pilih deh mau nyolek yang mana. Sebelum makan, mas Irvan, ngasih sedikit pengarahan. Tentang si kepiting telor paling jujur, yaitu cangkang kepiting yang dimasak pake telor (halah!). Di tempat ini pula gue baru ngerasain tahu paling enak! Lembut...banget. Pas masuk mulut ”nyeesss”...ancur bareng air liur (apa seeehh). Sebagai ”tempe person” gue kaget juga ada tahu yang bisa melupakan preferensi gue kepada tempe,hehehehehe.

Perut udah kenyang, hujan udah berhenti. Our next destination is the beach!!! Cihuy! Pantai pertama yang kita kunjungin di daerah Tanjung Kelayang. Katanya sih ini private beach punya si pemilik bus yang kita pake selama di Belitung. Wuaaahhh…wuaaahhh…pantainya bagussssss…banget! Airnya masih jernih, pasirnya masih putih. Subhanallah! Saat gue masih terkagum-kagum sama satu pantai ini, ada yang bilang kalau pantai selanjutnya yang bakal kita kunjungin, masih lebih bagus lagi. Migooooodd…mau sebagus apalagi kah pantai di sini?

Dari Tanjung Kelayang kita akhirnya check in di Lor In. Gue dapat sekamar sama Telly. Selesai taro koper, ganti baju, ngecek2 kamar mandinya yang open air, narsis dikit ;), kita pun segera berangkat ke pantai Tanjung Tinggi alias pantainya Dian Sastro. Karena tuh pantai pernah dipake buat shooting iklan Lux katanya...hehehehe. Begitu sampai di pantainya, oh waaaawwww...sesak napas deh liatnya. Bagus banget...! Pasirnya yang putih dan lembut, air jernihnya yang dengan refleksi gradasi tiga warnanya, batu-batu ”geda” yang ngampar dengan cantiknya. Pantainya benar-benar tenang, not even the sound of waves! Sungguh tempat ideal for doing nothing (dan foto2 tentunya ;) Apalagi ditambah dengan menyeruput kelapa muda, slurrupss! Kurang kopi panas sama pisang goreng aja deh, hehehe. Lagi bengong2 gitu, tiba2 gue nyadar kalau itu hari Jum’at! Wawww! Jum’at sore yang biasanya masih ribet di kantor (apalagi Myrna SMS ngasih tau kalo ada client datang ke kantor sore itu) dan lalu lintas JKT yang menggila. Semua itu bikin gue makin menikmati keindahan Tanjung Tinggi. Seandainya suasana waktu itu bisa kita masukin ke botol, bawa pulang ke JKT, terus keluarin pada saat-saat jenuh menyerang. Oohhh…

Selesai santai-santai di TanjungTinggi (pengennya sih nggak selesai yah) kita balik lagi ke hotel. Foto-foto bentar di depan hotel pas lagi sunset, balik ke kamar masing2, mandi (udh peliket banget itu) dan siap-siap buat makan malam jam 7. Tempat makan malam kita, doh! Cuma selemparan kancut deh dari hotel. Nama tempatnya “Mabai”. Karena udah ngantuk berats (kombinasi Incidal & bangun jam stengah 4 pagi emang dahsyat!), rasa makanan yang nggak terlalu istimewa ditambah gangguan kucing di bawah meja, bikin acara makan malam nggak terlalu berkesan. Pengen cepat-cepat pulang ke hotel, cuci muka, ganti baju dan tidurrrr! Kira-kira jam setengah 9 kita pun bergerak balik ke hotel. Dan gue menghadap bantal dengan nyenyaknya.


...masih belom pegel bacanya? hebat! masih nyambung lagi yeee...

 

Ke BaBel & Ketemu Crab Pit (part 1)

From email to parno attack : ”Waiting list nomer 20-an? Hadoooh...”

Disebabkan kebutuhan akan cuti sudah akut, jadilah gue ikut tour ke BaBel (Bangka Belitung) yang diadain milis Jalansutra (singkatnya JS) tanggal 7-9 September kemaren. Tadinya mo’ pergi bareng June’, partner in crime liburan, tapi karena satu dan lain hal dia batal ikut. Waktu daftar sempet deg2an nggak bakal keangkut. Karena dari 25 seat yang tersedia itu udah penuh semua dan gue masuk daftar penunggu alias waiting list. Somehow jatah seat-nya nambah jadi 34 and I keep crossing my finger karena nama gue masih di urutan penunggu nomor 20 sekian. Hadoh...dapet nggak ya?

Kemudian pada suatu sore yang cerah sebuah email datang dari mas Andrew, salah satu tour leader JS. Yak! Gue bisa ikut! Cihuy! Cihay! Cihoy! Cihey! Cuti! Liburan! Akhirnya! Sebelumnya gue emang udah denger tentang keindahan pantai di Bangka dari seorang teman kuliah. Tambah ngiler lagi waktu liat foto2 pantainya Belitung di multiply seorang anggota JS. Pasti okeh nih buat bengong2 nggak jelas (buat foto2 juga tentunya ;)

Masalah pendaftaran beres sekarang masalah mental nih. Baru kali ini gue pergi sendiri ke luar kota sama orang-orang yang sama sekali nggak gue kenal. Yang gue tahu pasti mereka adalah orang-orang yang doyan makan, hehehehe. Tiba-tiba gue mulai parno. Pertanyaan2 nggak penting bermain di kepala. Mereka ada yang pergi sendiri juga nggak ya? Jangan-jangan pada bawa teman or pasangan semua terus gue cengo’ aja gituh sendirian. Terus pada baik-baik nggak ya? Bisa nyambung nggak ya ngobrolnya?  Hari Kamis (6/09), satu hari sebelum pergi, tiba-tiba aja badan gue berasa lemes. Lutut gue kayak gak ada yang nopang. Waduh...semacam parno attack kah ini? Malamnya lebih gebleg lagi. Karena harus berangkat jam setengah 5 pagi, gue usahain banget tidur cepat sebelum jam 12. TV sengaja nggak gue nyalain. Alarm udah dipasang jam 3.20 biar ada jeda buat ngumpulin nyawa plus antisipasi kalau tidurnya terlalu ”kebo”. Saking takutnya nggak bisa tidur cepet yang ada gue beneran nggak bisa tidur. Akhirnya ya nyalain TV lagi, nonton bentar, pasang timer, mata mulai kriep2 dan zzzz...zzzz...

Kayaknya baru 5 menit tidur udah bunyi aja tuh alarm. Oke, oke, ngulet bentar, duduk dulu, dengar suara ngaji dari mesjid deket rumah, mata mulai kriep2, wait, wait, wakey wakey Ani! Hap! Hap! I got up the bed, ngambil handuk, dengar suara nyokap dari bawah ngecek gue udah bangun belum. Mandi. Siap-siap. Sarapan subuh2 minum Milo dan makan roti. Dianter bokap naik Damri di Blok M. Yep! I’m ready to go! Expanding my comfort zone!

...b'sambung yee...

Jumat, 14 September 2007

Not-so-comfort zone

Nyaman ketinggalan di rumah

Hanya keberanian yang terbawa

Cemas hanya mengintip dari belakang

 

Tarik napassssssss...

Yak!

 

Luaskan zona

Lapangkan ruang

Buat si nyaman bercanda lebih lega

 

 

07/09/07

Belitung-coffee time

Rabu, 05 September 2007

Suddenly Sedih

Apa ini?
Sendu merasuk tiba2

Merampas ceria

Yang baru mampir


Apa ini?
Galau mengacau
Merahnya senyum
Meriahnya tawa

 
Dingin berdesir
Bibir terkatup
Mata berkaca-kaca
Lalu merasa sendiri


Asing

Terdampar

Terpojok

Tenggelam

 

                   Jreb!

 

 

05/09/07

Jumat, 24 Agustus 2007

Accio Wentworth Miller

Tak ada tembok terlalu sulit untuk ditembus
Kala aku memangilmu
Kau akan datang
Bebaskanku dari belenggu rindu


22/8/07
Sleepless night


*Accio adalah mantra Harry Potter untuk mendatangkan sesuatu yang jauh ke hadapan kita.
Wentworth Miller adalah pemain serial "Prison Break" yang sedang Anda nikmati kegantengansesaknapasnya di halaman ini 

Bunga Rampai

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Other
Location:Jl. Cik Di Tiro (depan Jakarta Eye Center)
Dari mana saya harus memulainya? Dari jeruk peres dingin dengan irisan sunkist di dalamnya? Atau lemongrass beraroma daun sereh yang menyegarkan?
Mungkinkah dari asinan Betawi yang sama cantiknya kala dihidangkan dan disantap. Atau bagaimana kalau langsung membahas kerapu bakarnya yang kaya akan bumbu-bumbu? Ditemani nasi hijau yang wangi pandan dan daun suji serta aneka sambal yang saya lupa namanya karena terlalu panik bersantap? Aahh...tak lupa sate bunga rampai, aneka sate dari daging sapi sampai udang. Bisa juga kita langsung berkenalan dengan es panca warna, semacam es campur yang manisnya pas.
Oohh...mungkin saya harus mulai dari interior klasiknya yang bernuansa kolonial. Suasana resto yang tenang (mungkin karena kita datengnya kecepetan) dan para pelayan ramah yang mengerti deskripsi setiap makanan yang tertera di menu. Ataukah saya harus mengingatkan kalian terlebih dulu sebelum ke sini sebaiknya mengajak banyak kawan atau kerabat agar bisa puas icip-icip makanan yang berbeda (psst...”si bill” di sini lumayan tinggi, saweran sepertinya pilihan yang menyenangkan).
Duuh...saya benar-benar bingung harus memulai dari mana?


23/08/07

Rabu, 22 Agustus 2007

Ngobrol di Warung Kopi Sentil Sana dan Sini

-inilah akibat long wiken bokek, di rumah aja, sambil ngerjain utang kerjaan script radio, dengerin lawakan jadul Warkop. Murmer menghibur bikin sakit perut-

Suatu hari anak-anak di kampung si Ending minta jalan-jalan ke Kebun Raya. Padahal si Ending lagi kagak punya duit. Tapi kagak tega juga dia sama anak-anak itu. Akhirnya dia nekat ngajak tuh anak-anak ke Kebun Raya. Sebelum berangkat Ending minta dicariin peci.
Udah deh tuh mereka pun berangkat naik kereta api. Ending langsung nyari tempat duduk dekat jendela dan...tidur! Dateng petugas, nanyain tiket. Semua nunjuk ke Ending.
”yang mana orangnya?”
”itu pak, nyang tidur di dekat jendela, pake peci”
Disamperinlah ama si petugas.
”mas, tiket mas!”
Ending tetap tidur.
“eh mas...tiketnya!”
Masih belum bangun.
’MAS!”
Ending kaget! Pecinya langsung copot, kelempar keluar jendela.
Dia langsung marah-marah ke tuh petugas.
”Bapak ini gimana! Kalau bangunin orang jangan ngagetin dong! Itu peci copot padahal di dalam situ ada tiket kereta pulang pergi sama duit buat masuk kebun raya! Saya nggak mau tahu pokoknya bapak harus ganti!”

Si bapak takut juga dimarahin. Akhirnya digantilah itu tiket dan uang. Jadi juga deh Ending sama anak-anak itu ke Kebun Raya. Ending... ‘kang tipu! 

                                                -------

Kali ini Indro lagi jadi dokter masuk desa. Dia bertanya lah sama warga situ, kira-kira kayak gini deh.

Indro: Bapak-bapak, ibu-ibu...siapa yang tahu kepanjangan muntaber?

Kasino (sebagai warga yg sok you know): Saya dok! Muntaber itu musyawarah tanpa bermufakat!

Indro: Bukan! Muntaber itu muntah berak.

Kasino: Ahh…itusingkatan lama! Yang baru musyawarah tanpa bermufakat.

Indro: Kok bisa?

Kasino: iya, masuknya bareng-bareng, keluarnya sendiri-sendiri. Satu lewat depan, satunya lewat belakang!

Grrrrr...

 

Kamis, 16 Agustus 2007

Pecahkan saja piringnya, gelasnya, mangkoknya, cangkirnya, cerminnya, kaca jendelanya, kaca spionnya, kaca matanya...



nggak salah dong kalau minta yang emang milik gue?
emang wajar kan kalo nanya2 kapan bisa segera gue dapat sesuatu yang emang milik gue?
bukan berarti rese kan kalo sesuatu milik gue itu dijanjikan bakal balik jam sekian tapi ternyata belom ada juga trus gue telpon2 sms2 buat nanyain kenapanya dan kapan sebenarnya bisa gue dapat si sesuatu itu.
kenapa sih seseorang harus menunda-nunda memberikan sesuatu yang bukan miliknya kepada si pemilik aslinya?

tai'ah!!


kamiskeruh16/8.07



                           

Rabu, 01 Agustus 2007

*sigh*

Terus2an kesel
terus2an marah
emang nggak enak yah...

kayak nggak jadi diri sendiri
bikin "kotor" hati
bikin otak mumet tambah mampet

semua keliatannya salaaaahh...aja
denger omongan nggak enak dikit bawaanya langsung nyolot
capek lahhh...

maunya sih nanti2 lebih bisa sabar...
tenang...
sumbunya lebih panjang...
Amiiin...
 




Selasa, 31 Juli 2007

Harry Potter & The Deathly Hallows

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:JK Rowling
Tante JK Rowling emang pinter banget “nipu” pembacanya. Udah gitu kita dikasih tau ketipunya pas bab-bab terakhir pula. Kalau selama ini kita pikir Snape itu jahat superlicik dan Dumbledore itu sosok sempurna tanpa cacat...weits! Baca dulu sampai habis!

Petualangan Harry, Ron dan Hermione udah masuk tahap serius. Tanpa Dumbledore, tanpa Sirius, mereka harus berjuang sendiri buat nyari ”Horcruxes”-nya Voldermort. Nggak ada waktu buat senang sedikit pun karena mereka harus ngumpet dari kejaran Death Eater dan Kementrian Sihir (yang udah disusupi Death Eater). Persahabatan tiga tokoh utama ini sungguh diuji.
Duel good witch vs bad witch semakin seru! Apalagi pas satu Hogwarts bersatu melawan Voldermort dan Death Eater.
Gong-nya tentulah duel pamungkas (ini Harpot ato cerita wayang sih? :P) Harry vs Voldermort! Bacanya aja udah excited banget…apalagi nanti di film! Awas aja kalo’ nggak seru!

Desas desus, bisik-bisik, gossip-gosip bahwa Harry bakalan metong pada akhirnya…sangatlah tidak benar! Ron dan Hermione pun tetap selamat sampai tamat (halah! Sok rhyming). Eits...bukan berarti nggak ada tokoh baik hati yang metong lho...Di awal-awal cerita aja udah ada satu anggota Order of the Phoenix yang jadi korban Death Eater. Hayoo...siapakah itu?

Setelah semua hiruk pikuk tunggang langgang lintang pukang, tante JK menutup cerita ini dengan manisnya....Maju sembilan belas tahun berikutnya, di King’s Cross station, peron 9 ¾, saat Harry mengantar anak-anaknya menuju Hogwarts.

”The scar had not pained Harry for nineteen years. All was well”

Huhuhuuuuhuu… Harry, we’re gonna miss you!



Rabu, 25 Juli 2007

Selasa, 24 Juli 2007

From the Movie "Music & Lyrics

 

"A melody is like seeing someone for the first time. The physical attraction. Sex.

 

But then, as you get to know the person, that's the lyrics. Their story. Who they are underneath.

It's the combination of the 2 that makes it magical."

 

 

walau udah ketebak jalan ceritanya tetap ada momen or dialog yang bikin kita tersentuh. aaahh...Hugh Grant masih bisa bikin kita terhanyut walau kerut2 di wajahnya makin jelas

Rabu, 18 Juli 2007

Kenapa ya?

...suka merasa nggak enak kalau nagih hutang?

padahal kan sebagai yang orang yang diutangin posisi kita lebih kuat dong?

tapi kok...rasanya suka malu, sungkan, jengah, kalau harus ngingetin orang untuk bayar hutangnya?

padahal kalau gue sendiri yang punya hutang, pasti selalu minta diingetin buat segera bayar. karena berasa nggak enak aja gitu punya hutang.

sayangnya gue nggak bisa nerapin ini kepada yang berhutang pada dirikuw. berasa jadi debt collector banget getuuuuhh...

akhirnya cuma bisa berharap & berdoa mudah2an mereka yang berhutang lancar rezekinya...sehingga bisa bayar hutang

Selasa, 17 Juli 2007

Sementara by Float


Sementara (ost 3 Hari untuk Selamanya)

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi 

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini
 

Sementara... lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara... akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua 

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara 

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja

(dari www.floatproject.com)

walau tak terlalu senang dengan ending filmnya namun gue jatuh cinta berats sama soundtracknya. lagu2nya bisa menyeret kita seolah2 lagi jalan-jalan bareng tokoh utamanya. dan lagu ini...njleb! nancep bener! "b'darah2" deh dengernya!

Senin, 16 Juli 2007

"Misleg" Day

Bukan karena sindrom "i hate mondays"
Bukan karena PMS
Berasa ada yang misleg aja hari ini! Tapi nggak tau apa dan kenapanya...

Hadooooooohhhh...!
Mudah2an aja bukan pertanda buruk ye.

Jumat, 13 Juli 2007

Harry Potter and the Order of the Phoenix

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Wuaaah…lebih bagus lagi dari film ke-4!
Para pemain utama udah nggak lucu lagi karena tampangnya udah pada ABG. Terutama Daniel Radcliffe yang bodinya mulai keliatan “laki”. Uugh!
Seiring dengan bertambah umur tokoh Harry dkk cerita ini memang semakin “gelap”.

Di sekuel ke-5 ini, Lord Voldermort mulai bangkit dan mengumpulkan para pengikutnya, Death Eaters. Dia semakin brutal mengincar Harry dengan cara memasuki pikirannya. Harry yang masih shock dengan kematian Cedric jadi tambah stress dengan ulah Voldermort ini. Sementara Kementrian Sihir masih aja menyangkal kemunculan balik Voldermort alih-alih sang perdana menteri menuduh Dumbledore & Harry Potter nyebarin isu nggak bener. Karena kesal dengan sikap kementrian mereka, para penyihir yang dulu pernah bersatu melawan Voldermort, bersatu lagi. Ya si Order of the Phoenx inilah namanya. Ternyata di dunia sihir yang namanya pemerintah suka rese juga ya, hehehehe.

Waktu baca buku ke-5 gue sebenarnya nggak terlalu suka sama tokoh Harry karena dia marah-marah mulu! Udah gitu jadi keras kepala susah dibilangin. Akan tetapi setelah melihat aktingnya Daniel Radcliffe yang semakin matang seperti bodinya (lho?!) gue justru berbalik suka.
Gary Oldman sebagai Sirius Black kayaknya ditakdirkan tampil sebentar tapi sangat mengesankan di film-film Harry Potter. Asyik bangetlah aktingnya di sini, jadi orang baik tapi ada bandel-bandelnya juga. Dia juga keliatan nyambung sama Daniel. Gue jadi kebawa sedih waktu Sirius metong, padahal udah tahu juga waktu baca bukunya (pas baca bagian metong ini, refleks gue lempar tuh buku!)
Yang bikin gemes itu Imelda Staunton pemeran Dolores Umbridge, utusan khusus Kementrian Sihir di Hogwarts. Uuuhh…berasa pengen nampar deh! Cucok banget sama apa yang gue bayangin waktu baca bukunya.
Adegan duel-duel sihirnya juga makin oke! Dumbledore’s Army vs Death Eaters, Order of the Phoenix vs Death Eaters, Dumbledore vs Voldermort…dahsyat deh!

Gue kasih bintang 5 karena gue bisa lebih suka filmnya daripada bukunya. Ada gunanya juga yah film ini ganti-ganti sutradara. Selalu ada penyegaran gituh. Hidup David Yates!

"Expelliarmus!"